Foto-foto Pengendara Motor Nekat Menerjang Banjir Tanjungkarang Kudus

Pengendara sepeda motor menuntun kendaraanya saat melintasi jalan di DesaTanjungkarang Jati Kudus
SEKITARMURIA.COM, KUDUS – Guyuran hujan yang terjadi hampir setiap hari, mengakibatkan beberapa daerah di Kudus mengalami musibah banjir. Seperti halnya di Desa Tanjungkarang, Jati Kudus Jawa Tengah.

Pada rabu siang (15/2/17) masih terjadi genangan air yang cukup tinggi di desa setempat. Disamaping itu, banjir juga menggenangi Jalan Kudus-Porwodadi Km. 05 Poliman Desa Tanjung Karang, Jati Kudus. Sehingga membuat sebagian para pengendara sepeda motor yang nekat menerjang jalan mengakibatkan kendarannya mogok. Berikut foto-fotonya:

Seorang ibu mendorong kendaraan suaminya dengan sabar

Pengendara motor mendorong kendaraannya


Pengendara motor dengan hati-hati menjalankan kendaraannya dengan kedua kakinya


Pengendara motor mencoba melewati banjir




















Dua perempuan mendorong kendaraannya yang mogok




















Seorang ibu mendorong kendaraan suaminya

Seorang laki-laki membantu mendorong sepeda motor yang dikendarai perempuan




















Pengendara sepeda motor mendorong kendarannya yang mogok

Demikian beberapa foto yang berhasil diabadikan oleh reporter sekitarmuria.com pada rabu siang (15/2/17) di Desa Tanjungkarang Kecamatan Jati Kabupaten Kudus Jawa Tengah. nantinya berita foto lainnya ya.. (AC/SM)


Jalan Kudus-Purwodadi Tergenang, Puluhan Kendaraan Mogok

Sejumlah pengendara sepeda motor menuntun kendaraannya yang mogok akibat nekat menerjang banjir yang menggenagi jalan Kudus-Porwodadi Km. 05 Poliman Desa Tanjung Karang, Jati Kudus
SEKITARMURIA.COM, KUDUS – Jalan Kudus-Purwodadi Km. 05 Poliman Desa Tanjung Karang, Jati Kudus Tergenang banjir sedalam 50 centi meter akibat guyuran hujan beberapa hari yang lalu. Akibat kejadian tersebut, puluhan kendaraan mogok.

Menurut salah satu warga setempat, Sudiono (50) menuturkan, kejadian tersebut telah terjadi sejak hari rabu kemarin. “Jalan kebanjiran sejak seminggu kemarin, kalau hujan deras memang biasanya begitu,” katanya pada rabu (15/2/17).

Sementara itu, salah satu pengendara sepeda motor asal Purwodadi, Maulana (49) mengaku kendaraanya mogok akibat kemasukan air. Ia terpaksa melewati jalan tersebut, karena itu merupakan satu-satunya jalan untuk bisa cepat sampai di Kabupaten Kudus. “Tadi pas melewati jalan ini, di tengah-tengah kendaraan saya tiba-tiba mogok,” terangnya.

Maulana (49) berharap pemerintah agar segera memperbaiki jalan tersebut biar tidak merugikan banyak orang. “Ya, segera diperbaiki, ditinggikan jalannya atau gimana gitu. Yang penting tidak banjir lagi,” terangnya.

Nasib yang sama juga dialami Wasto (38) warga asal Honggosoco Kudus. Ia harus menunda keinginanya untuk memancing di daerah Undaan akibat kendaraannya mogok. “Tadi sudah sampai tengah, kemudian kecipratan air mobil dan motornya mati, terus saya kembali lagi (ke utara, red),” terangnya.

Ia berharap jalan yang tergenang banjir tersebut segera ditindak lanjuti oleh pemerintah supaya masyarakat bisa beraktifitas dengan normal. “Semoga pemerintah segera menangani, sehingga masyarakat bisa melewati jalan tersebut dengan lancar,” harapnya.
Saat sekitarmuria.com meninjau lokasi pada pukul 10.00 WIB. Banyak Sepeda Motor mogok akibat nekat menerjang banjir yang menggenangi jalan Porwodadi-Kudus. Selain itu, banyak juga pengendara sepeda motor maupun mobil yang memilih memutar balik kendarannya untuk tidak melewati jalan tersebut. (AA/SM)

346 Korban Banjir Masih Mengungsi di Balaidesa Jati Wetan Kudus

Ratusan pengungsi korban banjir di Balaidesa Jati Wetan Jati Kudus
SEKITARMURIA.COM, KUDUS – Sebanyak 346 Korban banjir masih mengungsi di Balaidesa Jati Wetan, Jati Kudus. Para korban banjir tersebut sudah mengungsi sejak hari jumuah lalu. Dari jumlah tersebut 194 perempuan dan 152 laki-laki.

Hal ini ditegaskan oleh Yaqub (47) salah satu petugas yang menjaga posko korban banjir yang ada di Balaidesa Jati Wetan. Menurutnya dari jumlah korban banjir yang mengungsi ada dua keluarga yang berasal dari Desa Tanjung karang. “Ada dua keluarga yang berasal dari Desa Tanjung Karang. Karena rumahnya dekat dengan daerah Jati Wetan, jadi ya kita ikutkan,” tambahnya pada rabu siang (15/2/17).

Dari ratusan korban banjir tersebut, menurutnya tidak ada yang mengalami sakit yang cukup serius. “Ya, ada beberapa yang sakit seputar gatal-gatal. Namun sudah ada petugas yang siap 24 jam,“ katanya kepada sekitarmuria.com. ia menambahkan, mengenai logistik sudah banyak tersedia, bahkan cukup untuk beberapa hari yang akan datang.

Yaqub menerangkan, untuk para anak-anak korban banjir yang masih sekolah, setiap harinya ada petugas yang menghantarkan dan menjemputnya di Sekolahan. “Sudah ada petugas Satpol PP yang menghantarkan sampai ke sekolahan. ini sesuai arahan pak Bupati saat memberi pesan beberapa hari yang lalu” ujarnya.

Sementara itu, Nasiran (45) salah satu korban banjir yang mengungsi di Posko Balaidesa Jati Wetan berharap banjir di daerahnya bisa surut. Sehingga bisa kembali lagi ke rumahnya. “Saya berharap banjir segera surut, dan pemerintah bisa membangun tanggul sungai tanggulangin juga sungai-sungai sekitarnya.” harapnya. (WA/SM)

Meski Tak Berpenghasilan Tetap, Jasuwan Tetap Bersyukur Menjadi Tukang Becak

Jasuwan, Tukang Becak di Depan Gapura Gang Jenggolo 01, Rw 02 Desa Janggalan Kota Kudus
SEKITARMURIA.COM, KUDUS – Di tengah padatnya arus lalu lintas sekitar Desa Janggalan Kota Kudus. Terlihat seorang tukang becak yang sedang menunggu penumpang. Ya, namanya Jasuwan warga Desa Ngaringan Gebog Kudus.

Ia sehari-hari bekerja sebagai tukang becak yang mangkal di sebelah barat Gapura Gang Jenggolo 01, Rw 02 Desa Janggalan Kota Kudus. Sudah sekitar 36 tahun Jasuwan menjadi tukang becak, namun ia tetap menjalani pekerjaannya tersebut dengan suka cita.

Saat ditemui sekitarmuria.com, Bapak dari tujuh anak ini bercerita tentang pekerjaanya sehari-hari. Ia mengaku sudah puluhan tahun menjadi tukang becak. “Saya menjadi tukang becak sejak tahun 1980-an,” katanya pada selasa siang (14/2/17). 

Lebih lanjut ia menuturkan becak yang ia gunakan untuk bekerja bukan merupakan miliknya, akan tetapi milik seseorang yang ia sewa perharinya. “Saya sewa becak perharinya Rp. 4.000,” ujarnya. 

Dalam sehari, penghasilannya tidak menentu. Namun ia tetap bersyukur atas rezeki yang ia peroleh. “Ya antara Rp. 10.000 sampai Rp. 15.000. Terkadang juga tidak ada,” terangnya. Dari penghasilannya tersebut, ia mengaku belum cukup untuk menghidupi keluarganya. Namun ia bersyukur istrinya dapat bekerja di pabrik rokok, sehingga mampu meringankan beban keluarganya.

Diusinya yang sudah tua, ia masih mempunyai tanggung jawab menyekolahkan satu putranya yang masih duduk di kelas empat SD. Ia pun berharap putranya tersebut bisa memperoleh pendidkan lebih tinggi dibanding ia dan keenam anaknya. “Saya hanya sekolah sampai kelas empat SD, ke enam anak saya juga tidak sampai lulus SMP,” terangnya.
Oleh karena itu Laki-laki yang beralamat di Dusun Klumpit Desa Ngaringan berharap dapat pekerjaan yang tetap. Supaya bisa membiayai putranya memperoleh pendidikan layak. Namun ia menyadari bahwa ia tidak punya ijazah. “Saya berharap bisa bekerja menjadi tukang kebun, atau pembatu gitu,” harapnya. (WA/SM)

Terendam Banjir, Sejumlah Petani di Garung Kidul Kudus Gagal Panen

Sebagian sawah warga Desa Garung Kidul terendam banjir
SEKITARMURIA.COM, KUDUS – Guyuran hujan yang terjadi hampir setiap hari ini, membuat sebagian tempat mengalami musibah banjir. Seperti halnya di Desa Garung Kidul Kecamatan Kaliwungu Kabupaten Kudus Jawa Tengah.

Akibat banjir yang merendam sebagian lahan sawah di Desa setempat, mengakibatkan sejumlah Petani mengalami gagal panen. Dari kejadian tersebut kerugian ditaksir mencapai puluhan juta rupiah.

Seperti halnya Suhadi, salah seorang Petani yang mengalami gagal panen. Menurutnya, musibah banjir yang terjadi di sebagian lahan sawah Petani daerah setempat hampir terjadi setiap tahunnya. Namun belum ada upaya dari pemerintah untuk mengatasi banjir tersebut agar tidak terjadi lagi. “Padahal sudah saya usulkan beberapa kali,” harapnya.

Saat ditemui sekitarmuria.com, Suhadi mengaku rugi puluhan juta rupiah akibat gagal panin pada tahun ini. “Sawah saya lima kotak, satu kotak saya rugi 2,3 juta rupiah. jadi ya saya rugi sekitar 10 juta lebih. Padahal sebagian sawah saya sudah siap untuk panen,” katanya pada senin siang (13/2/17). 


Suhadi menambahkan lahan sawah miliknya gagal panen akibat terendam banjir sejak lima hari yang lalu. “Sawah saya kena banjir sejak tanggal 8 februari kemarin,” katanya kepada sekitarmuria.com.

Meski demikian, ia mengaku tidak kapok untuk menjadi Petani. karena baginya bertani merupakan pilihan hidupnya. Suhadi mengaku sudah sekitar 20 tahun menjadi Petani. lahan sawah yang ia garap juga bukan merupakan miliknya. “Milik Desa yang saya sewa pertahunnya,” ujarnya.
Tidak hanya Suhadi yang mengalami gagal panen, beberapa Petani lainnya juga mengalami hal yang sama. seperti lahan sawah yang ada di sekitar milik Suhadi. Dari pantauan sekitarmuria.com ada sekitar 500 meter persegi lebih lahan sawah yang terendam banjir. Dari kejadian tersebut, Suhadi dan beberapa Petani berharap dapat perhatian dan bantuan dari pemerintah. (WA/SM)

Air Terjun Kedung Paso Kudus, Surga Tersembunyi di Balik Gunung Muria

Air Terjun Kedung Paso Kudus
SEKITARMURIA.COM, KUDUS – Bagi sebagian kalangan, liburan merupakan hal yang wajib dilakukan setiap akhir pekan. Itu dilakukan untuk menghibur diri setelah seminggu menjalani aktifitas yang sangat padat dengan bekerja.

Liburan merupakan aktifitas yang menyenangkan yang menurut beberapa ahli kesehatan memang wajib dilakukan oleh manusia, hal itu guna untuk mengembalikan kesegaran badan maupun jiwa yang sudah terkuras dengan aktifitas sehari-hari. 

Bagi kita yang tinggal di sekitar Gunung Muria, pastinya sudah mengenal beberapa tempat wisata yang indah nan asyik. Seperti Air Terjun Colo, Pantai Kartini, maupun yang lainnya. Namun ada tempat wisata baru yang belum banyak dikenal oleh para wisatawan. Yaitu Air Terjun Kedung Paso Dan Air Tertun Grimisan.

Air terjun ini terletak di Desa Japan, Dawe Kudus. Untuk bisa ke lokasi ini, dibutuhkan kurang lebih 50 menit perjalanan menggunakan kendaraan roda dua maupun roda empat dari pusat Kota Kabupaten Kudus.

Letaknya yang tersembunyi di balik hijaunya pepohonan Gunung Muria, membuat sebagian kalangan belum begitu mengenal. Namun anda tidak perlu khawatir, karena sudah ada petuntuk jalan ketika anda sudah sampai di gerbang masuk wilayah Desa Colo atau lebih kita kenal dengan sekitar pangkalan Ojek Wisata Religi Sunan Muria.

Dari tempat itu, kita bisa memulai perjalanan dengan naik Sepeda Motor atau kendaraan roda dua. karena lokasinya yang tersembunyi, maka hanya kendaraan roda dua yang bisa mengakses tempat wisata tersebut. Dibutuhkan sekitar 10 menit dari pangkalan Ojek Muria, kemudian mengikuti petuntuk jalan yang sudah ada di jalan menuju lokasi.

Sampai mendekati lokasi anda harus berhenti untuk menitipkan kendaraan anda kepada warga sekitar, dengan tarif cukup murah Rp. 2000. Kemudian melanjutkan dengan jalan kaki sekitar 10 menit untuk bisa sampai di AirTerjun Kedung Paso maupunn Air Terjun Gerimisan.
Sesampainya di sana, maka anda akan menemukan surga yang tersembunyi di balik Gunung Muria, atau keindahan alam yang sangat sayang untuk anda lewatkan. Disamping itu anda juga bisa menikmati kejernihan dan kesejukan air yang bersumber langsung dari Gunung Muria. Selamat liburan.. (WA/SM)

Perpaduan Alam dan Pantai Menjadi Ciri Khas Wisata Guamanik Jepara

Para wisatawan menikmati liburan di wisata Guamanik Donorojo Jepara

SEKITARMURI.COM, JEPARA – Selain dikenal sebagai Kota Ukir, Kabupaten Jepara juga terkenal akan tempat Wisatanya yang mempesona, seperti Pulau Karimunjawa, Pantai Kartini, Pantai Bandengan, dan beberapa pantai lainnya.


Selain pantai, banyak juga tempat Wisata yang sangat indah, seperti Air Terjun Songgo Langit, Air Terjun Sumenep, dan air terjun lainnya. Tidak hanya itu, ada juga tempat Wisata yang memadukan Alam dan Pantai yaitu Wisata Guamanik, di mana tempat Wisata ini terletak di Kecamatan Donorojo Kabupaten Jepara Jawa Tengah.

Baca Juga : Air Terjun Kedung Paso, Surga Tersembunyi di Balik Gunung Muria

Di tempat ini, anda bisa menikmati keindahan alam dan pemandangan dekat pantai. Lokasinya yang sangat strategis ini membuat anda bisa berlama-lama menikmati hawa sejuk alam yang masih asri ditemani deburan obak yang tepat berada kurang lebih 100 meter dari Guamanik.

Wisatawan melihat pemandangan alam dan pantai di Menara Guamanik Donorojo Jepara

Untuk bisa ke lokasi ini, anda bisa menempuh perjalanan dari pusat Kabupaten Jepara sekitar satu jam perjalanan. Disamping itu, tidak hanya kendaraan roda dua yang bisa sampai lokasi ini, kendaraan roda empat juga bisa sampai lokasi ini.


Dihari biasa pengunjung tempat wisata ini tidak terlalu banyak. namun dihari libur, tepat wisata ini banyak didatangi para wisatawa lokal maupun inter lokal. Kebanyakan wisatawan yang datang ke lokasi ini mengajak sanak keluarganya untuk menimati keindahan Alam dan Pantai yang ada di Guamanik Donorojo Jepara.

Diamping itu, banyak juga Wisatawan yang mengajak Teman, Sahabat, Pacar, maupun yang lainnya untuk hanya sekedar berswafoto, bersantai ria, maupun Cuma penasaran dengan tempat wisatanya. Ayo buruan bagi anda yang belum ke sini, silahkan buruan ke sini, pastinya akan melihat pemandangan alam yang sejuk dengan ditemani suasan pantai yang syahdu. (WA/SM)

Penjual Jagung Ini Pernah Keliling Berbagai Daerah di Indonesia

Mahfud, Penjual jagung rebus yang sering mangkal di depan SPBU Sengon Mayong Jepara
SEKITARMURIA.COM, JEPARA – Musim hujan selalu menjadi berkah bagi sebagian kalangan. Tak terkecuali para penjual jagung rebus. Seperti halnya mahfud, seorang penjual jagung rebus yang biasa mangkal di depan SPBU Sengon Mayong Jepara.

Mahfud mengaku berjualan jagung di daerah tersebut sejak satu bulan sebelum puasa. “Saya jualan di sini sejak ruwah (red, bulan sebelum puasa),” katanya. Sebelum memutuskan berjualan di SPBU Sengon Mayong Jepara. Ia mengaku sudah berjualan jagung rebus hampir di semua daerah yang ada di Indonesia.

Kali pertama Mahfud berjualan jagung rebus, ia mengaku diajak temannya dari Desa Sidigede Welahan, kemudian selang beberapa tahun ia memutuskan untuk berjualan jagung secara mandiri. “Saya berjualan jagung rebus sejak tahun-90-an,” tambahnya.

Sebelum memantabkan hati berjualan jagung rebus, ia sempat berjualan es dari berbagai macam. Mulai es kelapa muda, es teler, dll. “Berbagai macam es saya faham,” ujarnya pada jumuah sore (10/2/17). 

Sejak lulus dari dari SD (Baca: Sekolah Dasar) Mahfud tidak melanjutkan pendidikannya, ia lebih memilih merantau di luar daerah. “Saya sudah merantau sejak lulus SD,“ terangnya pada sekitarmuria.com

Sudah sekitar 25 tahun Mahfud berjualan jagung rebus, jatuh bangun dalam berjualan ia lalui dengan suka cita, ia merasa lebih cocok dengan jualan jagung rebus dibanding jualan yang lainnya. “Saya lebih senang jualan jagung rebus,” katanya.

Dalam sehari Mahfud mempu menjual jagung rebus sampai ratusan buah, ia mengaku lebih senang kalau kondisi saat musim hujan. “Kalau hujan saya buat sekitar 200, kalau panas 150 jagung,” katanya.

Kakek berusia 60 tahun ini menjual jagung rebusnya seharga Rp. 2000 perbuahnya. Namun jika pelanggannya membeli tiga buah, maka ia memberi bonus cukup membayar Rp. 5000. 

Setiap harinya Mahfud berjualan jagung di depan SPBU Sengon Mayong, tetapi terkadang juga di sebelah barat SPBU Sengon. Ia mulai membuka dagangannya sesuai kondisi alam. “Kalau hujan saya jualan pukul 11.00 WIB. Kalau panas pukul 14.00 WIB,” tandasnya. (WA/SM)

Teater Satoesh STAIN Kudus Diharapkan Bisa Berdakwah Lewat Seni

Pelantikan Pengurus Teater Satoesh STAIN Kudus Periode 2017
SEKITARMURIA.COM, KUDUS – Teater Satoesh STAIN Kudus diharapkan bisa berdakwah lewat seni. Hal ini ditegaskan oleh wakil ketua tiga STAIN Kudus H Shobirin dalam pelantikan pengurus Teater Satoesh periode 2017 pada rabu siang (8/2/17) di Gedung Pusat Kegiatan Mahasiswa Kampus setempat.

Lebih lanjut, Shobirin menuturkan, bahwa berdakwah tidak hanya dipanggung-panggung, tapi juga bisa melalui seni maupun yang lainnya. “Berdakwah bukan hanya di panggung. Dakwah bisa lewat seni, seperti yang dilakukan Sunan Kalijaga, kalau era sekarang Emha Ainun Najib maupun yang lainnya,” katanya.

Shobirin menambahkan, Sehingga bayangan teater yang selama ini diasumsikan orang kurang baik, bisa ditepis dengan karya-karya yang baik. “Harapan kami Teater Satoesh beda dengan yang lain, dalam artian kita di Perguruan Tinggi Agama Islam. Jadi Teater Satoesh bisa menampilkan seni yang tidak bertentangan dengan agama,” lanjutnya.

Sementara itu, Lurah Teater Satoesh periode 2017 Bayu Tri Atmojo mengaku akan berusaha lebih maksimal dalam berkarya. “Bisa melanjutkan program-program yang lalu, dan lebih banyak menghasilkan karya-karya. Dan setiap tahunnya membuat kegiatan berskala besar” terangnya.
Adapun, Lurah Teater Satoesh periode 2016 Wahyu Hario Romadhona memberi pesan agar kepengurusan periode tahun ini bisa lebih semakin kreatif. “Semoga kedepan Teater Satoesh lebih liar, dalam artian lebih kreatif dan mampu menemukan fitrahnya kembali,” harapnya. (WA/SM)

Jalan Depan Kampus STAIN Kudus Tergenang

Pengendara Motor dan Mobil melintasi jalan depan kampus timur STAIN Kudus
SEKITARMURIA.COM, KUDUS – Genangan air hujan menutupi jalan yang ada di kampus Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Kudus kamis pagi (9/2/2017). Akibat kejadian itu, para pengendara sepeda motor ataupun mobil yang melintasi jalan tersebut memelankan kendaraannya.

Menurut salah satu penjaga toko foto copy yang ada di dekat lokasi, kejadian tergenangnya jalan di depan kampus STAIN Kudus terjadi akibat kiriman air dari arah selatan. “Terjadi sekitar pukul 08.50 WIB,” ujar penjaga toko yang enggan disebutkan namanya.

Ia menambahkan, Kejadian tergenangnya jalan di depan tokonya hampir selalu terjadi saat musim hujan. “Sudah biasa terjadi, kalau musim hujan seperti ini,” tambahnya. Namun tidak terlalu sering, hanya terjadi ketika ada kiriman air dari arah selatan.


Saat disinggung mengapa jalan bisa tergenang air hujan, menurutnya itu terjadi akibat sempitnya gorong-gorong yang ada di sebelah barat jalan. Disamping itu air kiriman dari arah selatan banyak membawa sampah rumah tangga. “Seperti itu ada pempers, plastik,” terangnya
Saat sekitarmuria.com meninjau lokasi pada pukul 09.30 WIB. air masih menggenangi jalan tersebut, banyak pengendara dari arah selatan yang memilih jalan bagian barat yang genangan airnya tidak terlalu dalam, sehingga membuat pengendara motor ataupun mobil yang dari arah berlawanan (baca: utara) menunggu bergantian. (WA/SM)